MIUS Menuju Pendidikan Kewirausahaan

MIUS: Menuju Pendidikan Kewirausahaan

 

  1. Merubah paradigma pendidikan

 

Sering kita saksikan di media cetak maupun elektronik, sekelompok mahasiswa menggelar aksi demonstrasi menuntut pemerintah agar mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup bagi rakyat. Ini adalah bukti nyata bahwa banyak keluaran pendidikan yang mempunyai sikap pasif. Sikap pasif tersebut ditunjukkan dengan cara menunggu dan menuntut pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan. Dari kasus tersebut, beragam pertanyaan retoris dapat muncul. Hanya kemampuan demonstrasi sajakah yang dimiliki mahasiswa? Kenapa mereka menghabiskan waktu dan energi untuk menggelar demonstrasi? Kenapa mereka tidak memanfaatkan waktu dan energi untuk memikirkan bagaimana mereka dapat menyediakan lapangan pekerjaan untuk rakyat tanpa harus mengandalkan pemerintah? Kenapa mereka tidak mencoba berwirausaha sehingga mampu menolong dirinya sendiri dan rakyat yang membutuhkan pekerjaan? Bukankah ilmu yang mereka dapatkan cukup untuk melakukan hal itu? Kenapa hal itu tidak mereka lakukan? Serangkain pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab.

Berangkat dari definisi “pendidikan” adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Kasus demonstrasi mahasiswa di atas menunjukkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia belum mampu mengajarkan dan mendidik generasi muda untuk menjadi dewasa. Kedewasaan peserta didik (mahasiswa) dapat dilihat dari cara pendang mereka dalam menghadapi suatu permasalahan. Demonstrasi menuntut pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan bukan merupakan sikap dewasa dan terpelajar.

Kasus mentalitas bangsa Indonesia (mahasiswa) yang hanya menunggu lapangan pekerjaan, dan bukan menciptakan lapangan pekerjaan adalah salah satu kegagalan pendidikan di negara ini, namun hal tersebut bukan sepenuhnya kesalahan mahasiswa / generasi muda. Semua kembali kepada pemerintah, bagaimana selama ini pemerintah menciptakan sistem pendidikan di Indonesia. Banyak pelajar di negeri ini tidak mempunyai kemampuan, kemauan atau bahkan keduanya, untuk menjadi mandiri tanpa mengandalkan lapangan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah. Hal ini terjadi karena sistem pendidikan Indonesia mendidik generasi muda untuk menjadi pegawai dan bermental kuli.

B.       Pengangguran yang sarjana

 

Menakertrans Muhaimin Iskandar mengakui, saat ini jumlah pengangguran muda di Indonesia masih cukup tinggi. Penyebabnya adalah terbatasnya kesempatan kerja baru serta tidak adanya link and match antara kompetensi yang dimiliki tenaga kerja dengan pasar kerja. “Ini menjadi salah satu penyebab masalah masih tingginya tingkat pengangguran usia muda di Indonesia,” kata Menakertrans Muhaimin Iskandar di Jakarta pada Kamis (6/2/2014).

Muhaimin lebih lanjut mengatakan,”Pemerintah memprediksi jumlah pengangguran pada tahun 2014 menjadi 7,24 juta orang (6,03%). Jumlah ini lebih rendah dibanding jumlah pengangguran terbuka saat ini yang berjumlah 7,39 juta orang (6,25%) seperti disebutkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hasil Sakernas Agustus 2013.

Untuk menangani pengangguran kaum muda maka pemerintah berupaya memperbanyak pelatihan keterampilan kerja sesuai kebutuhan industri, penyebaran kewirausahaan, pengembangan sistem informasi pasar kerja mendorong berkembangnya perusahaan-perusahaan padat karya yang mampu menampung tenaga kerja dalam jumlah besar.”Pemerintah terus memprioritaskan penciptaan lapangan pekerjaan baik formal maupun informal yang dipadukan dengan program aksi pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan kesempatan kerja yang lebih luas,” katanya.

Muhaimin mengatakan pencari kerja dan pengangguran usia muda harus melengkapi kemampuannya dengan kompetensi kerja sehingga bisa dengan mudah menentukan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bakat, minat dan keinginannya.”Lembaga-lembaga pendidikan pun dapat mengembangkan kerja sama dengan Balai Latihan Kerja, terutama untuk mengembangkan program keterampilan bagi para pesertanya.Yang perlu ditekankan adalah upaya dengan meningkatkan kualitas SDM dengan membangun kompetensi tenaga kerja yang memiliki daya saing guna perluasan kesempatan kerja, ” kata Muhaimin.

Selain itu, untuk mengurangi angka pengangguran adalah dengan memperbanyak kesempatan kerja melalui wirausaha yang dapat dilakukan oleh semua lulusan jenjang pendidikan mulai dari SD sampai lulusan universitas/perguruan tinggi.”Wirausaha merupakan salah satu solusi untuk menekan tingkat pengangguran, terutama lulusan SD yang jumlahnya masih cukup besar di Indonesia. Selain bisa menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri, wirausaha juga dapat membuka kesempatan kerja bagi orang lain, “ katanya.

Untuk mendorong pertumbuhan wirausaha di Indonesia, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi setiap tahun berkomitmen mewujudkan penciptaan 10.000 orang wirausaha baru per tahun di 33 Propinsi melalui bantuan pelatihan dan pembinaan. Nantinya para wirausaha itu akan menjadi penggerak ekonomi masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan.”Ke depan jangan ada lagi lulusan pendidikan dan sarjana yang menganggur, harapan cak Imin (panggilan akrab Muhaimin Iskandar). Sumber: Pikiran Rakyat Online

 

  1. Kenapa di Indonesia sarjana banyak yang menganggur?

 

Menurut Sofian Effendi, Anggota Dewan Pendidikan Tinggi (DPT)sekarang ini ada kecenderungan ketidaksesuaian tenaga-tenaga yang diperlukan oleh masyarakat. Masyarakat lebih membutuhkan mahasiswa yang menjadi teknisi daripada akademisi. “Masyarakat kita itu sebenarnya lebih banyak membutuhkan teknisi daripada akademisi. Akibatnya apa? Sekarang masih banyak sarjana pengangguran, yang dihasilkan dari perguruan tinggi ini adalah yang tidak sesuai dari kebutuhan masyarakat. Masyarakat lebih butuh teknisi, tapi perguruan tinggi lebih banyak menghasilkan akademisi,” katanya di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta (20/5).

Sofyan memaparkan, di Indonesia saat ini lulusan perguruan tinggi dengan latar jurusan akademik berjumlah 82.5 persen dan hanya 17,5 persen yang berlatar belakang vokasi. “Padahal, kebutuhan yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini adalah 75 persen, yang di mana itu adalah tenaga teknisi,” ujar Sofian.

Mantan rektor UGM ini juga menilai saat ini industri-industri di Indonesia sudah semakin berkembang. Sudah seharusnya masyarakat mempunyai SDM yang baik, seperti mahasiswa-mahasiswa yang didukung dengan keahlian teknis. Akan tetapi, saat ini banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia yang sudah mendatangkan teknisi-teknisi dari luar negeri.

D.   MIUS: Menuju pendidikan bervisikewirausahaan

 

Berangkat dari kenyataan di atas, Kurikulum Pendidikan Bervisi Kewirausahaan dapat diartikan sebagai kurikulum pendidikan yang mengajarkan kemauan dan kemampuan kewirausahaan kepada peserta didik sejak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi secara terintegrasi, sehingga keluarannya diharapkan dapat berwirausaha, mandiri, serta menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya dan masyarakat.

Tujuan akhir dari gagasan Pendidikan Bervisi Kewirausahaan ini adalah untuk mengatasi banyaknya pengangguran di Indonesia. Gagasan kurikulum ini sejalan dengan pendapat pengusaha nasional Indonesia, Ir. Ciputra, yang mengatakan bahwa wirausaha merupakan salah satu cara menghilangkan kemiskinan dan pengangguran (Reh-Atelem-Susanti,2008.). Setiap keluaran dari pendidikan, diharapkan mempunyai kemauan dan kemampuan sesuai dengan bidangnya masing-masing untuk mengembangkan diri dan masyarkat dengan cara berwirausaha. Dengan kata lain, sistem pendidikan ini akan memperbaiki mental generasi muda agar tidak menggantungkan lapangan pekerjaan kepada pemerintah serta melatih potensi generasi muda terpelajar untuk mengembangkan sumber daya di sekitarnya untuk kemakmurannya sendiri dan tentu akan berimbas pada kemakmuran masyarakat dan lingkungannya.

Menggagas pendidikan yang bervisi kewirausahaan dan menghasilkan lulusan yang diharapkanpun tidak semudah membalik telapak tangan. Menghasilkan lulusan yang andal dan dapat diandalkan harus dilakukan secara terintegrasi sejak bangku sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Kemauan dan kemampuan setiap generasi muda harus dibangun dan dilatih dengan konsep pembelajaran yang berkesinambungan. Untuk mecapai hal tersebut seorangpendidik harus mengerti dan paham dulu tentang apa itu kewirausahaan. Sehingga dapat diharapkan bisa merancang menanamkan konsep pendidikan dan Pembelajaran kewirausahaan kepada peserta didiknya. Konsep pendidikan dan Pembelajaran kewirausahaan diawali dengan memberikan pengetahuan dasar tentang kewirausahaan di Madrasah Ibtidaiyah, selanjutnya dikembangkan sesuai tataran pendidikannya. Bagaimana caranya? Yaitu dengan membimbing  peserta didik agar mampu mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Diharapkan Pendidikan Bervisi Kewirausahaan ini setiap peserta didik mempunyai kompetensi yang standar. Sebagai gagasan awal, MIUS mencoba akanmemulai untukmemberikan perkenalan tentang kewirausahaan. Mengarahkan pandangan, pola pikir (mindset) dan pemberian motivasi kepada keluarga besar MIUS tentang kewirausahaan. Karena itu yang perlu mendapat perhatian serius bagi para pendidik MIUS adalah mengetahui dan memahami beberapa hal berikut ini:

  1. Materi pendidikan diprioritaskan untuk pembentukan pola pikir dan motivasi pada setiap bidang profesi. Menurut Jean Piaget, perkembangan kognitif anak usia SD/MI tergolong pada tahap concrete-operational. Pada fase ini kemampuan berpikirnya masih bersifat intuitif, yakni berpikir dengan mengandalkan ilham (Anonim[2],2003).Dalam periode ini, anak memperoleh tambahan kemampuan yang disebut system of operations (satuan langkah berpikir). Kemampuan satuan langkah berpikir ini berfaedah bagi anak untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri.  Anak sudah berkembang ke arah berpikir konkrit dan rasional. Piaget menamakannya sebagai masa operasi konkrit, masa berakhirnya berpikir khayal dan mulai berpikir konkrit. (Anonim[2],2003)
  2. Masa peralihan masa berpikir khayal dan mulai berpikir konkrit, anak didik sebaiknya tidak diarahkan pada profesi tertentu. Profesi pilot dan dokter merupakan khayalan dan cita-cita anak yang sangat populer (Nizar-Muhammad, 2007). Akan tetapi perlu diingat bahwa aspek kewirausahaan pada profesi tersebut sangat kecil. Apabila sejak kecil anak didik sudah terpatri pada cita-cita tersebut, maka cepat atau lambat potensi anak didik untuk menjadi mandiri dan berwirausaha semakin berkurang. Padahal pikiran siswa SD/MI masih bisa dibentuk sesuai dengan kebutuhan lingkungan, sehingga pola pikir tentang cita-cita anak untuk menjadi wirausahawan harus segera dibentuk. Pola pikir siswa SD/MI lebih terbuka dan mau menerima perubahan dari luar. Mereka cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan, sehingga akan lebih mudah bagi pendidik untuk memberikan motivasi dan pola pikir tentang keiwirausahaan  secara efektif.
  3. Jiwa kewirausahaan itu merupakan suatu aspirasi terhormat (noble aspiration) dan lazimnya dimulai dari tekad, imajinasi dan informasi para pengambil prakarsa (Bob-Widyahartono,2008). Pendapat tersebut patut dijadikan rujukan para pendidik, bahwa siswa SD/MI harus dididik jiwa kewirausahaannya sejak dini dengan mengembangkan tekad, kreativitas dan imajinasi yang secara alami dimiliki oleh anak-anak seusia mereka.
  4. Menerapkan pilar pendidikan sebagaimana yang sudah dicanangkan oleh PBB melalui Unesco, yaitu:
  • Learning to know

Learning to know ini memiliki pengertian kita belajar agar kita tahu. Dari tidak mengetahui menjadi tahu. Contohnya nih, kita belajar tentang cara membuat sandal jepit cantik dari koran atau apa. Nah, kita awalnya belum tau gimana caranya menyulap kertas Koran menjadi sandal yang cantik dan bernilai jual tinggi, bahan-bahan untuk membuatnya juga kita belum tau. Tapi, dengan belajar untuk membuatnya kita bisa membuat sandal tersebut. Belajar membuatnya bisa melalui apa saja bisa dengan menonton acara belajar memasak, bisa dengan membaca buku, bisa juga meminta tolong orang lain untuk mengajari kita. Dengan begitu, dari tidak tahu kita menjadi tahu kan ?

  • Learning to do

Learning to do maksudnya setelah kita dapat poinLearning to know tadi, kita bisa melakukan sesuatu (berkarya) dengan yang sudah kita ketahui dari yang kita pelajari. Contohnya, kita tadi sudah bisa membuat sandal cantik dari kertas koran. Karena kita sudah bisa membuatnya, kita jadi bisa membuatnya sendiri. Tentu hal ini menguntungkan diri kita sendiri. Awalnya kita meminta bantuan orang lain untuk membuatnya atau kita membelinya di restaurant. Tapi, sekarang kita udah bisa membuatnya sendiri.

 

  • Learning to live together

Learning to live together maksudnya dengan kita mengetahui dan kita dapat melakukan sesuatu dari apa yang kita pelajari, selanjutnya kita dapat melakukannya untuk diri kita sendiri dan juga untuk orang lain yang ada di sekitar kita. Contohnya masih seputar sandal cantik dari kertas korantadi hehe. Kita udah tau cara membuatnya, udah bisa membuatnya sendiri, nah sekarang kita bisa membuatnya untuk orang lain juga, tidak hanya untuk diri kita sendiri. Kita bisa membaginya dengan orang lain. Mungkin kita juga bisa membagi resep atau carauntuk membuat sandal cantik dari kertas koran tersebut dengan orang lain agar mereka juga bisa membuatnya.

 

  •     Learning to be

Learning to be ini maksudnya adalah setelah kita mengetahui, kita dapat melakukan, kita dapat membaginya dengan orang lain, kita dapat membuat sesuatu yang lebih baik, baik dari warna, bentuk, kemasan dan lain-lain. Baik itu bagi diri kita sendiri maupun orang lain.

 

  1. Niat tulus mensukseskan K-13 dengan memperkaya pengetahuan, keterampilan dan kreativitas diri. Mengapa? Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim mengatakan, Kurikulum 2013 lebih menekankan praktik daripada hafalan. Sebab selama ini, anak-anak banyak terbebani hafalan, yang malah kurang meningkatkan kreativitas.Dengan Kurikulum 2013, ujar Musliar, pemerintah ingin menghasilkan bangsa Indonesia yang  produktif, kreatif, dan afektif. Dalam kurikulum tersebut anak dibentuk agar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Pembuatan Kurikulum 2013, terang Musliar, berawal dari banyaknya orang yang mengeluh kalau anak-anak saat ini tidak memiliki keterampilan.Pendidikan di Indonesia baru mengantarkan mereka pada pencapaian tahap pengetahuan. “Maka ini yang harus diubah melalui Kurikulum 2013 yang tidak hanya mengantarkan anak memiliki pengetahuan saja. Namun anak juga dibekali dengan ketrampilan dan sikap yang baik,” ujar Musliar di dalam acara Dialog Nasional ICMI di Jakarta, Rabu, (11/12). Sebagai contoh akibat kurikulum sebelumnya yang banyak hafalan, kata Musliar, di antaranya anak-anak mungkin banyak yang nilai ujiannya sembilan untuk bahasa Inggris. Namun saat mereka disuruh bicara dengan bahasa Inggris mereka tidak bisa. Selain itu, ujar Musliar, dalam pelajaran tata boga, anak-anak hanya disuruh menghafal bahan-bahan kue dan cara membuat kue. “Mereka memang bisa mengerjakan ujian cara membuat kue namun kalau disuruh praktik membuat kue secara langsung belum tentu bisa,” ujarnya. Makanya, terang Musliar, dalam Kurikulum 2013 ini, anak-anak akan lebih banyak diminta menjalankan aktivitas dari pada hanya menghafal. Sehingga mereka bisa memiliki ketrampilan yang sesungguhnya seperti bisa berbicara bahasa Inggris maupun membuat kue sungguhan. Sejumlah sekolah di Jakarta, kata Musliar, sudah ada yang menerapkan Kurikulum 2013. Terdapat sekolah yang ruang tata boganya jauh lebih mewah dari pada di hotel, anak-anak diajarkan membuat kue secara nyata sampai mereka bisa membuat kue.”Hal itu rupanya membuat anak-anak lebih senang sebab mereka melakukan kerja sungguhan. Kalaupun ujian, tanpa menghafal mereka pasti bisa menjawab bahan kuenya apa saja karena sudah melakoni,” ujar Musliar.

D. Mengapa MIUS harus menuju pendidikan kewirausahaan?

MIUS, di samping ada niatan mengawal suksesnya kurikulum 2013 dan upaya mewujudkan impian sebagaimana tertuang dalam indikator dan strategi pencapaian visi misi madrasah yakni menjadikan MIUS sebagai referensi sekolah/madrasah lainnya, juga terdorong oleh santernya pemberitaan tentang Masyarakat Ekonomi Asean yang dikenal dengan MEA.

Kita pasti sudah mengetahui bahwa, pelaksanaan kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 sudah di depan mata. Dan Indonesia adalah pasar terbesar karena jumlah konsumsi yang besar. Tetapi dengan melihat data tingkat persaingan Indonesia dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN, Indonesia masih terlihat di kelas bawah. Artinya kita bisa saja diserang oleh produk-produk luar. Tidak hanya produk luar, tetapi juga oleh serbuan Tenaga Kerja (Skilled Labour) yang bisa menggeser mata pencaharian kita. Kita sebagai warga negara terutama anak-anak hingga pejabat tingkat birokrat, tentu sebagai penentu apakah kita akan menjadi winner atau loser. Indonesia harus mulai mempersiapkan diri jika tidak ingin menjadi sasaran empuk masuknya produk-produk negara anggota ASEAN.

Chairman Business Indonesia Singapore Association (BISA) Stephanus T. Wijaya mengatakan, tidak salah jika Indonesia akan menjadi pasar yang menggiurkan saat perdagangan bebas antar negara Asia Tenggara mulai berlaku. Hal ini lantaran Indonesia memiliki penduduk terbesar di kawasan Asia Tenggara.“Mereka akan melirik Indonesia karena daya tarik yaitu consumer base yang besar, di negara lain tidak ada itu. Di negara lain, konsumennya sudah mulai menua, sedangkan yang banyak dituju oleh investor adalah basis kolompok muda, itu banyak di Indonesia,” ujar dia di Jakarta, seperti ditulis Rabu (19/2/2014), dikutip dari liputan6.com.Sebab itu, kata dia, dalam menghadapi pasar bebas ini, Indonesia harus belajar dari pengalaman pelaksanaan free trade agreement (FTA) dengan Cina pada 2010. Akibat kurang siap, maka dampaknya sekarang adalah produk-produk Cina merajalela di Indonesia. “Begitu juga kalau kita tidak siap pasar ASEAN, kita hanya akan dijadikan sebagai pasar. ASEAN menjadi seperti Eropa, yang mungkin mata uangnya akan sama,” lanjut dia.Meski demikian, tidak ada pilihan lain bagi kita selain mempersiapkan diri menghadapai pasar bebas tersebut.

“Dalam masyarakat yang terbuka nanti, ada dua pilihan, kita mau meratapi nasib dihajar bangsa lain, atau mau berbuat sesuatu. Kalau kita punya niat baik dan ada dukungan pemerintah, kami percaya dengan niat baik kita bisa berbuat sesuatu (saat MEA),” tandas dia.

Direktur Perundingan Perdagangan Jasa, Direktorat Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Sondang Anggraini mengatakan, ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan negara-negara ASEAN khususnya Indonesia saat MEA ini berlangsung.Manfaat dari MEA ini antara lain, penurunan biaya perjalanan transportasi, menurunkan secara cepat biaya telekomunikasi, meningkatkan jumlah pengguna internet, infomasi akan semakin mudah dan cepat diperoleh, meningkatkan ekspor tradisional atau baru, meningkatnya investasi dan mungkin lapangan kerja.

Namun, untuk menghadapi dampak negatif akibat adanya persaingan, lanjut Sondang, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, baik oleh pemerintah maupun sektor swasta.Menurut dia, hal yang perlu dilakukan pemerintah saat ini yaitu mengembangkan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan MEA dan kebijakan umum pengembangan sektor jasa nasional.Kemudian meningkatkan kegiatan sosialisasi, fokus pada sisi suplai dan produksi, meningkatkan perlindungan terhadap konsumen, pemberian ruang usaha bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), mendorong swasta untuk memanfaatkan pasar terbuka, menciptakan kondisi yang memberikan kesempatan agar pemasok jasa domestik dapat bersaing dengan pemasok jasa asing.

Dari uraian di atas, MIUS, yang telah memproklamirkan madrasah “unggul” harus berani mendahului—dengan segala konsekuensinya— untuk memulai menanamkan pengetahuan tentang kewirausahaan kepada para peserta didik. Sebab, pengenalan pengetahuan tentangkewirausahaan juga penting di samping ilmu-ilmu yang selama ini sudah diberikan dan menjadi tradisi di MIUS.

Dalam kitab suci Alquran juga mengajarkan dan mendorong bagaimana umat dapat meningkatkan ilmu pengetahuan, bagaimanamerubah hidup kita lebih baik khususnya peserta didik yang kita siapkan untuk masa yang pasti berbeda dengan masa kita, agar kehidupan mereka menjadi lebih baik dan sejahtera. “Bagaimana semua ilmu itu dibawa lebih kepada kemajuan untuk mencari rizki Allah yang halalan thayyibah sebagai upaya mewujudkan fiddun-ya hasanah?” Apalagi, dari sisi rizki tidak bisa hanya bergantung kepada orang lain, meski selalu digambarkan bahwa Indonesia ini negara kaya, tetapi kekayaan tidak bisa dilihat saja, tapi harus bisa diraih karena itu nilai lebih dan anugerah.

Berkaitan dengan itu, Pak JK (wakil presiden terpilih 2014) memberikan resep bagaimana menjadi pengusaha yang handal yaitu dengan mempunyai tiga resep, yakni pengetahuan, kemauan yang sungguh-sungguh dan semangat bekerja. “Cuma itu modalnya, dan Tuhan adil tidak membeda-bedakan orang, cuma yang berbeda itu hanya pengetahuan, kemauan yang keras dan semangat, itu saja, jadi kenapa ada orang kaya dan tidak,” katanya.

Nah, kepada keluarga besar MIUS yang di rahmati Allah, kita harus menunggu apa dan kapan lagi untuk menjadi insan pendidik yang rahmatan lil alamin dengan segala inovasi dan kreasi demi anak-anak bangsa yang akan hidup pada jaman yang benar-benar berbeda dengan jaman kita?

Tulis komentar di sini

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *